Selasa, 29 Januari 2013

Ki Ageng Mangir : Trah Perjuangan yang Penuh Penderitaan, Ada anak-anakku disitu.

Mbah Buyut Panjiwanayasa, Pejuang 2 Sultan diatara 2 Perang Besar, 1628 dan 1682 ketika Mataram Menyerbu VOC dan ketika Banten diserbu VOC, dan Raden Panji Wanayasa berperan diantara keduanya, seperti kisah Mangir lainnya tak ada yang menceritakan tentang perjuangan trah Mangir.
Nyimas Utari Sandijayaningsih. Kisah terbaik, manusia terbaik, pejuang terbaik bagi bangsa ini, yang pernah lahir dari Rahim Trah Mangir, kecerdikannya , keberaniannya dan kesetiaannya pada negara ini berhasil membunuh salahsatu Jendral Belanda di Nusantara ini Yan Pietes Zoen Coen pada tanggal 1629, Bunda, kenangan keberanianmu tak pernah tercatat oleh tinta emas bangsa ini, tetapi api perjuangannmu akan selalu membakar jiwa kami anak cucumu.
Makam Ayahku : Ngadimin Winotosastro, Trah Mangir, Krapyak Bantul, wafat 20 Desember 1977, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Semaki Yogyakarta , seorang prajurit batalyon 405/ Yon Dodik V/Puslatpur Klaten, dari beliaulah mengalir beribu mata air cinta dan sejarah asal usul sifat ngeyel tapi pantang mundur keluarga kami.
Roro Sekar Pembayun dalam guratan lukisan cucunya Basuki Abdullah, putri Panembahan Senopati ini pejuang cinta dan kesetiaan pada negara dan orangtuanya, sahabat Pangeran Jayakarta dan sesepuh Kecamatan Tapos depok
Ki Ageng Mangir Wonoboyo, Keislamannya meninggalkan banyak penyimpangan dan bias sejarah kerajaan Mataram, gugurnya Ki Ageng Mangir dalam keadaan sujud sembahyang mengisyaratkan ketinggian kadar keimanannya sebagaimana Umar Bin Chottob dan Sayidina Ali wafat ditusuk pedang dari belakang dalam keadan sujud shalat.
Bagus Wonoboyo putra tunggal Ki Ageng Mangir dengan Roro Pembayun, Komandan divisi Telik Sandi di Mataram 1624 - 1529, Timnya berhasil membunuh Gubernur Jenderal VOC ke 4 Yan Pieters Zoen Coen pada 20 September 1629

Basuki Abdullah, Trah Mangir, lahir di Solo, salah satu pelukis besar di Indonesia , Meninggal dalam keadan dibunuh oleh seorang penjahat yang masuk kedalam rumahnya
Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo Trah Mangir lahir di Cepu , wafat dihukum mati oleh pemerintahan Sukarno, sahabatnya sendiri ketika bersama sama menjadi muris HOS Cokroaminoto. Dalam gambar SM Kartosuwiryo tampak sedang shalat terakhir sebelum menjalani hukuman tembak mati di kepulauan seribu Jakarta.
Pramudya Ananta Tur , Trah Mangir lahir di Blora .Satrawan Indonesia satu-satunya penerima hadiah Nobel, hampir separuh hidupnya dilewatkan dalam penjara karena dianggap terlibat gerakan PKI oleh rezim orde baru , tulisannya tajam, keras , revolusioner dan mendetail, wawasannya tentang Nusantara luar biasa, wafat dalam kondisi biasa
Raden Saleh, Trah Mangir dari fihak Ibu, lahir di Temanggung, Seniman lukis besar yang berpendidikan Belanda, lukisannya tentang penangkapan Diponegoro, memasukkan wajahnya dipihak Pangeran Diponegoro
Mimpimu nak akan menjadi kenyataan, Darah Mangirmu mengalir diantara kesusahan dan kepedihan hidup, jadi tak ada alasan untuk mundur menjadi pemimpin, pemberontak seperti Mangir, Intelejen seperti Bagus Wanabaya, Utari, Panji Wanayasa kakekkmu, atau dihukum bahkan dihukum mati seperti Pramudya atau Kartasuwiryo, itu hanya resiko takdir  

NastafasAssyifa Trah Mangir Depok, berlatih beladiri dan penyanyi. Semoga impianmu menjadi pemimpin terijabahi
Hafidz Ammar, Trah Mangir Tapos Depok, berlatih dengan sangat keras di perguruan Ninjutsu
Rausyan Fikri, Trah Mangir Tapos Depok , Lahir di Medan10 Desember 1993, semoga jejak perjuanganya tak dipenuhi penderitaan sebagaimana para pendahulunya, saat ini kuliah di Sarjana Magister (S2) Psikologi Gunadarma Jakarta
Istriku , Zunaida Trah Tengku Sa'di dari kerajaan Samudera Pasai Aceh Utara, ketika sedang berziarah dimakam ayah kami di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara semaki Yogyakarta, menyempatkan diri di makam Jendral Sudirman.
Aku dimakam Roro Pembayun di Kebayunan Tapos Depok, Leluhurku yang pemberani, cerdik dan penuh cinta kasih, tak terbayang bagaimana berjuang dengan cintakasih sesamanya, bagaimana beliau bisa terpisah ratusan km hanya untuk pergi berjuang, bagaimana bisa dia berjuang di Mangiran, Kota Gedhe, Pati Kendal, Jepara dan Batavia selama hidupnya.



Hari itu 26 Maret 2008 dan 24 Mei 2010 aku harus berpisah dengan keduanya, Ibunda Baroyah dan adikku Zainal Rifai, tak ada kata lain selain kepedihan dan kedukaan yang mendalam, kalian selalu dihati kami








8 komentar:

  1. luar biasa,,salut wat org yg perduli dgn leluhur dan mngenang phitnya perjuangan,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya biasa biasa saja pak, maklum hanya memenuhi pesan orangtua untuk mempertahankan identitas keturunan !

      Hapus
  2. Memang anda keturunan mangir langsung atau bukan??? atau hanya "sempalan"2 doank??? banyak lho di Gunung Kidul yang menjadi keturunan Mbah Mangir?? Hampir seluruh warga desa-ku kalau di runut juga trah Mbah Mangir???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sempalan, waduh pak !, seperti isme saja ( Maaf , bercanda ) saya hanya mengikuti apa yang telah disampaikan bapak saya , andaikata ada kisah lain tentang keturunan Mangir tentu saya sangat berminat menelusurinya, terimakasih atas komentarnya !

      Hapus
  3. Masalah keturunan Ki Ageng Mangir, memang sangat banyak, benar kalau di Gunung Kidul ( terutama bagian selatan ) sangat banyak, tetapi itu Ki Ageng Mangir II= saudara/ adik-adik Ki Ageng Mangir III dan keturunannya. Ki ageng Mangir III = ayah Ki Ageng Mangir IV atau Ki Wanabaya III suami Ratu Pembayun, masih banyak lagi trah Mangir (Ponorogo, Madiun = trah Mangir I = saudara/adik-adik Ki AgengMangir II dan keturunannya)

    BalasHapus
  4. Lebih jelasnya sebagai berikut; Ki Ageng Mangir I mempunyai beberapa orang anak, yang berhak melanjutkan gelar Ki Ageng Mangir II, berikutnya adalah anak laki-laki pertama, namun untuk yang lain kan tetap trah/ keturunan Ki Ageng Mangir I yang banyak tinggal di Madiun, Ponorogo, bahkan ada pula yang di daerah Blora karena ada yang melarikan ke sana saat Majapahit runtuh, ( bukan sempalan ). Ki Ageng Mangir II bertapa dan juga mempunyai beberapa anak di Gunung Kidul. Seperti keterangan di atas Ki ageng Mangir II mempunyai beberapa anak, dan yang melanjutkan gelar Ki Ageng Mangir III adalah anak laki-laki pertama, sementara saudara-saudaranya tetap tinggal di Gunung Kidul secara turun temurun, mereka tetap juga sebagai keturunan Ki Ageng Mangir ( bukan sempalan ). Kemudian Ki Ageng Mangir II dan Ki Ageng Mangir III melanjutkan perjalanan sampai di desa Mangir, membuka perkampungan yang akhirnya mendapatkan anugerah jabatan sebagai demang dengan gelar Ki Wanabaya I, berlanjut ke Ki Ageng Mangir III ( Wanabaya II ) nikah dengan putri Demang? Ki Ageng Paker dan lahirlah Ki Ageng Mangir IV (Wanabaya III) = suami Ratu Pembayun. Perlu di ketahui bahwa dari ke empat Ki Ageng Mangir hanya Ki Ageng Mangir IV ( Wanabaya III ) yang beragama Islam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mantap mbah penjelasannya,,,,,,salam kenal mbah,,,,fb Aji Soko

      Hapus
  5. menulis nasab dan menjaga keturunan muniko nggih termasuk sunnah..salam

    BalasHapus