Rabu, 16 Januari 2013

Ki Ageng Mangir Wonoboyo III - Panembahan Senopati, Sebuah kisah tendensius Penyesatan Sejarah yang dipicu Pengislaman Ki Ageng Mangir dan wilayahnya?

Ki Ageng Mangir dan wilayah Mangir tidak perlu diperangi malah kalau bisa dirangkul, Patih Mondorokolah yang mengusulkan kepada Panembahan Senopati agar Ki Ageng Mangir ditarik kedalam barisan kekuatan (Aliansi) Mataram Mangir, mengingat kesaktian dan pengaruhnya di telatah Mataram bagian Barat, sebagai murid Sunan Kalijaga langsung, sangat mustahil kalau beliau mengawinkan cucu tercintanya dengan seorang non Muslim yang terjadi adalah proses dakwah Mataram melalui kesenian di wilayah Mangir, oleh karena itu Ki Ageng Mangir Wonoboyo III adalah menantu syah dari Panembahan Senopati, pengislamanya adalah proses panjang yang disetujui dan direstui sepenuhnya oleh Panembahan Senopati dan berakhir dengan pernikahan antara Roro Pembayun dengan Ki Ageng Mangir

Watu Gilang adalah sebuah batu tempat shalat bukan singgasana Panembahan Senopati, adalah sangat aneh mendeskripsikan singgasana dengan sebuah batu tempat shalat, tidaklah mungkin singgasana Panembahan Senopati dari batu pipih hitam setinggi 40 Cm . Sebagai seorang raja, tidaklah layak mengingkari janjinya menerima Mangir sebagai menantu dihadapan pisowanan agung (kecuali orang lain yang menuliskan kisah palsunya) , Pembunuhan Ki Ageng Mangir pastilah dilakukan oleh orang lain (diduga Raden Ronggo, putra Panembahan Senopati yang memang kontroversial keberadaannya) pembunuhan dilakukan saat Ki Ageng Mangir sedang shalat diatas watu Gilang,ini menandakan hubungan Ki Ageng Mangir yang sangat dekat dengan Panembahan Senopati, pembunuhan Ki Ageng Mangir oleh Raden Ronggo dilakukan dengan watu gatheng yang dihantamkan pada tengkuk Ki Ageng Mangir ketika beliau sedang sujud. oleh karena itu penulis setuju bahwa Ki Ageng Mangir meninggal akibat pecahnya tengkorak Ki Ageng Mangir. Bila pembaca sempat menengok lokasi Watu Gilang dan letak batu Gatheng di Kotagedhe maka pembaca akan setuju dengan penulis bahwa sangat besar kemungkinan Ki Ageng Mangir terbunuh saat sedang shalat /
Raden Ronggo membunuh Ki Ageng Mangir karena dipengaruhi oleh telik sandi para adipati seperti Blambangan, Madiun dll yang sedang melakukan perlawanan kepada Panembahan Senopati, dengan cara dipanas panasi bahwa Ki Ageng Mangir jauh lebih sakti dari Raden Ronggo di Mataram, padahal maksudnya adalah kalau Ki Ageng Mangir terbunuh maka kekuatan Mataram yang bertambah dengan kekuatan Mangir akan sangat berkurang./
Berita pembunuhan Ki Ageng Mangir oleh Panembahan Senopati di singgasananya adalah sangat tendensius dan mengaburkan kisah sebenarnya yaitu Pengislaman Ki Ageng Mangir oleh Roro Pembayun dibantu Patih Mondoroko atau ki Juru Mertani, Inilah alasan para orientalis Belanda termasuk HJ De Graff membiarkan cerita sejarah ini berkembang, kemungkinan besar dengan pertimbangan bahwa asumsi Panembahan Senopati membunuh Ki Ageng Mangir adalah bukti kepengecutan dan kebengisan Panembahan Senopati sangatlah sesuai dengan politik "divide et empera" alias politik adu domba Penjajah Belanda disaat itu , Tak heran banyak budayawan baik Islam maupun non Islam yang mendukung kebenaran cerita pembunuhan Ki Ageng Mangir di singgasana raja Mataram, mereka enggan mencari kebenaran cerita tentang Ki Ageng Mangir itu./
Akhirnya atas perintah Panembahan Senopati raden Ronggo terbunuh secara misterius, diduga Raden Ronggo terbunuh oleh tombak kyai Baru Klinting milik Mangir oleh salah satu kerabat Mangir yaitu Patih Rojoniti diluar benteng kraton Kotagedhe. Tampaknya para kerabat Mangir memahami sebab sebab kematian pemimpinnya itu sehingga tidak timbul gejolak di wilayah Mangir juga mereka sudah diberi kesempatan membalas kematian Ki Ageng Mangir pada pembunuhnya.Sementara situs sejarah peninggalan Mangir berupa arca dan candi hindu yang menunjukkan ki Ageng Mangir adalah seseorang yang sebelumnya menganut agama Hindu, justru memperjelas bahwa akhirnya Ki Ageng Mangir mengikuti jejak putra - putri Brawijaya lainnya yaitu masuk Islam /
Sementara Roro Pembayun sebagai pahlawan Mataram diungsikan ke tanah Pati tempat kakeknya Ki Ageng Penjawi untuk mengobati luka hati akibat pembunuhan Ki Ageng Mangir suaminya, selanjutnya roro Pembayun melahirkan Bagus Wonoboyo yang ketika besar diasuh oleh pangeran Benawa putra Jaka Tingkir di Kendal Jawa tengah. Jadi kerabat Mataram masih selalu melindungi keberadaan Pembayun dan putranya itu, bahkan Pembayun dan Bagus Wonoboyo masih bertempur di Palagan Jepara 1618 bersama Tumenggung Bahurekso (tokoh kesayangan Sultan Agung), palagan gerilya Pangeran Jayakarta melawan JP Coen di Batavia yang berbasis di Kali Cikeas/ kali Sunter Tapos Depok 1620 dan terakhir palagan akbar Benteng Batavia VOC 1628 - 1629 .

11 komentar:

  1. Berapa banyak orang Jawa yang terjebak cerita tendensius Ki Ageng Mangir, padahal Ki Ageng mangir adalah seorang mualaf yang sangat tinggi ilmunya, Pengislamanya menjadi kacau balau dengan adanya cerita pembunuhan dirinya oleh Kanjeng Panembahan Senopati, sehingga yang timbul adalah kepengecutan P.Senopati, padaha Mangir terbunuh oleh konspirasi yang tidak ingin kekuatan Mataram berkembang dengan adanya Mangir dalam jajaran kekuatan Mataram. Mangir memang terbunuh oleh batu gatheng dari belakang dengan kepala pecah, tetapi bukan oleh P Senopati melainkan oleh P.Ronggo.Ada banyak versi tentang Ki Ageng Mangir dan Kanjeng Ratu Roro Sekar Pembayun, namun kami dari pihak trah Mangir mempunyai versi yang sangat berbeda dari versi yang selama ini tercerita , baca blog kami http://pembayun-mangir.blogspot.com/ , akan anda temui kejuatan sesungguhnya trah Mangir adalah trah yang sangat mempersiapkan diri untuk menjadikan keturunannya tokoh pemimpin terbaik bangsa ini dimasa yang akan datang

    BalasHapus
  2. Wahh Blognya bagus Pak nambah pengetahuan tentang Budaya

    BalasHapus
  3. Maturnuwun pak, masih kalah sama blog njenengan kok!

    BalasHapus
  4. slm. menarik pak tulisannya boleh minta kontak emailnya? ada fb atau twitter ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih pak, saya ada di Facebook dan di Twiter , salam kenal dari saya!

      Hapus
  5. sangat bagus pak..kalou bisa pos juga silsilah bahureksa pak suwun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kyai Ngabehi Bahu rekso adalah putra Ki Ageng Cempaluk sahabat pangeran Benowo putra Joko Tingkir raja Pajang yang masih satu keturunan dari Ki Ageng Ngerang Majapahit, selanjutnya Ki Ageng Cempaluk menjadi kontak person antara Panembahan Senopati dan Pangeran Benowo, Joko Bahu alias Raden Bahurekso adalah orang yang membuka Alas Roban pada saat pemerintahan Sultan Agung, Bahurekso adalah Jendral Mataram saat ekspedisi Kolodutho I yaitu penyerangan Mataram ke Batavia di tahun 1628 M.

      Hapus
  6. terimakasih tulisannya saya heran saat diajak ziaroh makam dekat kali opak ternyata eyang saya masih keturunan Ki Ageng Wonoboyo,.. mohon penjelasan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keturunan Ki Ageng Mangir Wonoboyo memang tersebar keseluruh wilayah di Nusantara, namun yang jelas radyan Lembu Amisani membangun trah Mangir dari wilayah Gunung Kidul kemudian cucunya membangun trah mangir di di Mangiran Bantul dipinggir kali Progo. Salam keluarga Mangir!

      Hapus